Lobster Air tawar
Seafood yang berasal dari olahan lobster menjadi begitu populer di kota-kota besar dan di daerah-daerah wisata sebagai salah satu sajian kuliner mewah yang bercita rasa tinggi.
Lobster Air tawar 2 title
Lobster merupakan hewan air yang termasuk ke dalam keluarga Nephropidae atau udang dengan ciri tubuh beruas-ruas dan adanya capit besar yang bergerigi tajam
Lobster Air tawart 3 title
Untuk memulai usaha pembudidayaan udang lobster, media berupa kolam sangat diperlukan. Dalam skala rumahan, luas kolam lobster dapat dibuat berukuran 2mx3m dengan ketinggian/kedalaman 1,5-2 meter.
Lobster Air tawar 4
Beternak lobster sebenarnya tidak memerlukan perawatan yang rumit. Bahkan jumlah pakannya pun tidak terlalu menguras kantong. Anda bisa memberinya cacahan ubi, aneka sayuran, dan lainnya setiap pagi dan sore hari.
Lobster Air tawar 5
Panen lobster air tawar dapat dilakukan setelah berumur 7 bulanan. Untuk mengambil lobster yang telah siap panen (dikonsumsi) biasanya dilakukan pada sore hari..
Waktu yang Tepat untuk Memberikan Lobster / Pakan Red Claw
Cara Makan dan Kebiasaan Makan Lobster Air Tawar ( Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal )
![]() |
| Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal |
Menurut Rita Suryani (2005) lobster air tawar tergolong karnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Lobster air tawar dapat memakan bahan hewani, seperti cacing sutera, cacing air, cacing tanah dan zooplankton. Sementara bahan nabati yang sangat disukai adalah tanaman air, seperti lumut, akar
salada air dan tanaman air lainnya. Menurut Wiyanto dan Hartono (2003) selain pakan alami segar, lobster juga menyukai pakan buatan, terutama pelet. Sedangkan menurut Iskandar (2003), selain lumut dan cacing, lobster juga suka dengan biji-bijian, ubi-ubian dan bangkai binatang.
Sebelum memangsa makanan, lobster mendeteksi makanan itu dengan antena pada kepala, kemudian jika makanan itu sudah sesuai dengan keinginan, mangsa akan ditangkap dengan capitnya yang kuat dan kokoh. Setelah itu, mangsa diserahkan pada kaki jalan pertama, yang berfungsi sebagai tangan, dan siap dikonsumsi. Karena pelet khusus lobster jarang, maka pelet lain juga bisa diberikan, tapi kandungan protein pakan tersebut harus berkisar antara 30 – 40 persen. Menurut Iskandar (2003), jenis pelet komersil untuk lobster air tawar adalah pelet untuk windu dan udang galah. Dosis pakan yang diberikan sebanyak 3 persen/hari dari bobot tubuh.
Dilihat dari kebiasaan makan, ikan dibagi menjadi tiga golongan, yaitu floating feeder, midle feeder dan bottom feeder. Ikan nila termasuk floating feeder, karena terbiasa makan di permukaan. Tambakan termasuk midle feeder, karena terbiasa makan di tengah perairan. Sedangkan lobster air tawar termasuk bottom feeder, yaitu pemakan dasar.
Selain bottom feeder, lobster juga fasif dalam mencari makan, dan lebih banyak dilakukan pada malam hari, atau dikenal dengan sebutan nocturnal animal. Karena sifat itu, maka pemberian pakan untuk lobster harus lebih banyak untuk malam hari.
satu lagi, lobster air tawar juga termasuk hewan yg mau memangsa sesamanya, alias Kanibal :-)
Sumber : http://usniarie.blogspot.com/2008/04/klasifikasi-dan-morfologi_26.html
Hati-hati WSSV Dapat Menyerang Lobster Air Tawar
![]() |
| Clarkii yg terkena WSSV (terdapat lapisan putih/ white spot pada sekujur tubuhnya) |
Di Indonesia, penyakit WSSV mewabah sejak tahun 1995. WSSV menyerang udang pada semua stadia baik benur maupun udang dewasa. WSSV dapat menyebabkan kematian pada udang hingga 100% selama 3- 10 hari sejak gejala klinis muncul. Namun, di Indonesia penelitian mengenai penyakit WSSV belum banyak dilakukan baik dalam aspek penularan maupun pencegahannya (Alifuddin et al., 2003).
Apalagi setelah di temukannya WSSV pada Lobster Air Tawar di negara bagian Louisiana di Amerika pada tahun 2007, WSSV sangat mematikan, hal ini diketahui dari beberapa penelitian yang menggunakan lobster ait tawar jenis Cherax quadricarinatus / Red Claw (Djauhari, 2005), jenis Procambarus Clarkii (Jha 2006; Wang et al.; 1998) dan jenis Pacifastus leniusculus (Jiravanichpaisal et al., 2001) dapat terinfeksi WSSV melalui oral, perendaman maupun injeksi. Diketahui pada penelitian dengan virus WSSV terhadap lobster ait tawar jenis Pacifastus leniusculus menghasilkan kematian total pada hari ke-10 pasca infeksi (Jiravanichpaisal et al., 2001) sedang lobster jenis Procambarus clarkii mencapai 81 % dalam 18 hari setelah mengkonsumsi pakan udang windu (Penaeus monodon) yang positif WSSV (Wang et al., 1998). Virus WSSV ini mampu menyebar melalui kanibalisme antar udang maupun melalui air yang terkontaminasi (Chang et al., 1996)
Himbauan kepada para peternak, berhati-hati jika menggunakan pakan berbasis udang segar pada Lobster Air Tawar Anda, rebus terlebih dahulu pakan berbasis udang yg akan di berikan, lebih baik repot daripada rugi :D
Buku Budidaya Lobster Air Tawar
dari Perum Perhutani Jember
http://kphjember.com/files/CARA%20BUDIDAYA%20LOBSTER.pdf
Semoga Membantu
Perbandingan Kandungan Kolesterol Lobster Air Tawar,Lobster Laut dengan Makanan Lainnya
Daging asap | 98 | Sekali-sekali |
Iga sapi | 100 | Sekali-sekali |
Iga babi | 105 | Haram |
Daging sapi | 105 | Sekali-sekali |
Burung dara | 110 | Sekali-sekali |
Ikan bawal | 120 | Sekali-sekali |
Daging sapi berlemak | 125 | Sekali-sekali |
Lemak sapi | 130 | Sekali-sekali |
Lemak kambing | 130 | Sekali-sekali |
Daging babi berlemak | 130 | Haram |
Keju | 140 | Hati-hati |
Sosis daging | 150 | Hati-hati |
Kepiting | 150 | Hati-hati |
Udang | 160 | Hati-hati |
Kerang/siput | 160 | Hati-hati |
Belut | 185 | Hati-hati |
Santan Kelapa | 185 | Hati-hati |
Lemak babi | 200 | Haram |
Susu sapi | 250 | Berbahaya |
Susu sapi krim | 280 | Berbahaya |
Coklat (cacao) | 290 | Berbahaya |
Mentega/margarine | 300 | Berbahaya |
Jeroan sapi | 380 | Berbahaya |
Jeroan babi | 420 | Haram |
Kerang putih/remis/tiram | 450 | Berbahaya |
Telur ayam | 500 | Berbahaya |
Jeroan kambing | 610 | Berbahaya |
Cumi-cumi | 1.170 | Dilarang |
Kuning telur ayam | 2.000 | Dilarang |
Otak sapi | 2.300 | Dilarang |
Otak babi | 3.100 | Haram |
Telur burung puyuh | 3.640 | Dilarang |
ya setidaknya juga harus makan makanan berserat, seperti sayuran, biji-bijian dan rajin ber-olahraga :-)
Perawatan Indukan Gendong Telor pada Lobster Air Tawar
Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.
Telur ini berbentuk oval dan berdiameter 1/10 inci dan akan dierami indukan selama kurun waktu 4 – 6 minggu.
| Red Claw Gendong Telor (Fase ke 2) |
Fase 2 ( hari ke 12 – 14 ), telur berwarna kecoklatan, coklat muda.
Fase 3 ( hari ke 20 – 23 ), menginjak fase eye spot ( titik hitam pada telur ).
Fase 5, telur telah berubah menjadi burayak yang sudah siap turun gendong ( lepas dari induknya ).
Menempatkan induk betina yang sedang gendong telur dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :
![]() |
| Fase ke 4 |
Pengeraman massal, yaitu dengan cara menempatkan beberapa ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium. Beberapa induk gendong telur yang ditempatkan secara bersama – sam ke dalam kolam / akuarium harus mempunyai umur telur yang sama ( minimal berselisih 10 hari )
![]() |
| Gendong Telor Fase ke 5 |
Cara memindahkan yg aman bisa sekalian diangkat dengan pipa sembunyiannya atau menggunakan alat serokan, lakukan dengan hati2 jangan sampai indukan betina terkejut sehingga mengibaskan ekornya, akibat dari pengibasan ekor tersebut telor yg di gendong akan rontok. Lokasi pemindahan juga jangan terlalu jauh.
Jaga kepadatan media karantina, misal satu wadah cuma diisi satu atau beberapa induk betina (tergantung luas media), resiko jika terlalu padat adalah antar indukan sering berganti atau rebutan utk masuk ke lubang sembunyian yg sama sehingga telur dapat rontok karena tercapit oleh indukan yg lain. Sebagai perbandingan, aquarium ukuran 50 x 50 maximum di isi oleh 2 ekor indukan yg sedang gendong telor.
http://www.infoagrobisnis.com/2009/05/proses-pengeraman-pada-lobster-air.html
http://www.facebook.com/note.php?created&¬e_id=10150136172222518
Kalium Permanganat (PK) sebagai Pengobatan pada Ikan dan Lobster Air Tawar
Ekstrak Wortel untuk Meningkatkan Pertumbuhan Lobster Air Tawar
![]() |
| Wortel / Daucus Carota |
Pemilihan wortel sebagai bahan ekstrak yang dicampur ke dalam pakan karena wortel mempunyai kelebihan yaitu mengandung beta karoten, harga murah dan mudah mendapatkannya. Beta karoten merupakan provitamin A yang berperan dalam proses pertumbuhan. beta karoten di dalam tubuh akan dirubah menjadi asam retinoat yang berperan untuk meningkatkan sistem immun, reproduksi dan menjaga pertumbuhan sel.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Perikanan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga yang dilaksanakan pada 6 April sampai dengan 6 Jum 2006. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan rancangan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan A (kontrol), B (25 ppm), C (30 ppm), D (35 ppm), E (40 ppm) dan F (45 ppm) dengan masing-masing perlakuan mendapat tiga kali ulangan. Data yang didapat diolah dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) antara A (kontrol) dan perlakuan {B (25 ppm), C (30 ppm), D (35 ppm), E (35 ppm) dan F (45 ppm)) terhadap pertambahan berat dan pertambahan panjang mutlak lobster air tawar, sedangkan antar perlakuan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (p> 0,05).
Hasil penelitian penambahan ekstrak wortel dalam pakan antara kontrol dengan perlakuan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap laju pertumbuhan harian dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan dengan dosis minimal 25 ppm dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan benih lobster air tawar dan aman digunakan karena tidak mengakibatkan kematian benih lobster air tawar.
Sumber : http://jurnal.dikti.go.id/jurnal/detil/id/2:5399/q/pengarang:Irawati%20/offset/135/limit/15
Proses Moulting pada Lobster Air Tawar
![]() |
| Lobster Moulting (Clarkii Blue) |
Moulting melalui proses yang bersifar hormonal. Setidaknya ada dua jenis hormon yang diketahui bertanggung jawab terhadap proses moulting, yaitu ecdysis dan MIH (Moult Inhibiting Hormon). Ecdysis berperan dalam proses moulting, sedangkan MIH berfungsi sebagai penghambat proses moulting.
Salah satu cara mengurangi MIH adalah dengan teknik ablasi atau teknik pemotongan salah satu mata lobster. MIH terletak pada batang mata lobster, dengan membuang mata tersebut, diharapkan kehadiran MIH bisa dihilangkan agar tidak ada yang menghambat proses moulting.
Moulting merupakan tahap kritikal dalam kehidupan lobster. Hampir 30% kematian terjadi pada saat moulting. Kematian terjadi dari akibat gagal moulting, infeksi patogen, dan akibat kanibalisme. Dalam proses moulting ditemui fenomena penyerapan kalsium dari kerangka lama yang disimpan dalam organ khusus dalam perut lobster (gastrolith).
Selama proses moulting, lobster cenderung tidak aktif dan berdiam diri dalam lubang persembunyiannya. Kalaupun bergerak akan lamban. Kulit lobster akan tampak keruh dimana hal ini adalah hal yang wajar.
Setelah proses moulting selesai, kulit lobster akan lunak dan perlu beberapa lama untuk menjadi keras kembali sehingga lobster nyaris tidak mempunyai perlindungan apapun terhadap musuh ataupun dari serangan lobster lainnya. Lobster memerlukan tempat persembunyian yang aman agar bisa terlindung dari serangan lobster atau hewan lain. Setelah itu mereka akan aktif dan makan lebih banyak. Selama masa pertumbuhan kulitnya lobster memerlukan kalsium yang cukup.
Secara ringkas, proses moulting melalui empat tahap yaitu: proecdysis, ecdysis, metcdysis dan intramoulting.
1. Proecdysis
Proecdysis merupakan tahap persiapan moulting. Pada tahap ini sel-sel epidermis lobster memisahkan diri dari kutikel tua, dan mulai menyiapkan diri membentuk kerangka luar baru. Kalsium diserap dari kerangka lama dan disimpan dalam gastrolith. Lobster akan berhenti makan pada tahap ini. Kebutuhan energi selanjutnya selanjutnya diambil alih oleh hepatopancreas yang akan menyuplai energi selama moulting berlangsung.
2. Ecdysis
Tahap ini merupakan tahap pelepasan diri dari kerangka lama. Pada saat baru keluar, kutikel lobster dalam keadaan masih lunak. Pada fase ini terjadi penyerapan air secara cepat oleh tubuh lobster.
3. Metecdysis
Dalam tahap ini terjadi pemindahan mineral kalsium dari kalsium ke kutikel barunya sebagai bahan kerangka luar. Endokutikel juga terbentuk dan pada fase ini lobster sudah mulai makan. Pembentukan jaringan terjadi disertai dengan peningkatan sintesis protein dari DNA. Jaringan mulai menggantikan air yang diserap pada fase sebelumnya.
4. Intermoulting
Merupakan fase antar moulting. Pada saat kerangka luar dan pertumbuhan jaringan nyaris selesai, lobster mulai mengubah metabolismenya dari untuk keperluan pertumbuhan ke pemenuhan cadangan energi untuk disimpan dalam hepatopankreas. Cadangan ini diperlukan lobster untuk moulting berikutnya.
Pengaruh Penambahan Kalsium pada Pakan terhadap Frekuensi Moulting Lobster Air Tawar
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan kalsium pada pakan terhadap frekuensi molting lobster air tawar (Cherax Quadricarinatus). Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi dasar tentang penambahan kalsium yang tepat pada pakan lobster air tawar, sehingga bisa digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan frekuensi molting dan mampu mempercepat pertumbuhan lobster air tawar.
Penelitian ini dilaksanakan selama 30 hari di Laboratorium Indoor Perikanan, Fakultas Peternakan-Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Adapun perlakuan yang digunakan adalah penambahan kalsium pada pakan dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu perlakuan A = 0 % (tanpa penambahan kalsium), B = 2 %, C = 4 %, dan D = 6 %.
![]() |
| Cherax Quadricarinatus / Red Claw |
Data rata- rata sintasan lobster air tawar secara berurutan adalah sebagai berikut; perlakuan B (2%) = 93,33%, D (6%) = 93,33%, C (4%) = 86,67%, dan A (0%) = 80 %. Sedangkan data rata-rata pertumbuhan lobster air tawar secara berurutan adalah sebagai berikut; perlakuan B (2%) = 0,85 g, D
(6%) = 0,79 g, C (4%) = 0,78 g, dan A (0%) = 0,73 g.
Disarankan agar dalam budidaya lobster air tawar khususnya pada stadia benih, dapat menggunakan pakan yang ditambahkan kalsium 2%, sehingga dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar tersebut.
Sumber : http://research-report.umm.ac.id/index.php/research-report/article/viewFile/214/301
Kejutan Suhu Panas terhadap Laju Pertumbuhan Benih Lobster Air Tawar
![]() |
| Heater |
(heat shock) Yang Bebeda Terhadap Laju Pertumbuhan Benih Lobster air Tawar
(Cherax quadricarinatus) dibawah bimbingan Ir. AGOES SOEPRIJANTO, MS dan
Ir. ABDUL RAHEM FAQIH, MSi.
Permintaan pasar akan lobster air tawar di dalam negeri bisa dikatakan cukup
tinggi dan prospek pasar luar negeri masih terbuka lebar, tetapi produksi domestik belum
dapat memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Hal ini terkait dengan masih kecilnya hasil
produksi lobster air tawar oleh petani dalam negeri. Untuk
mempertinggi hasil produksi
lobster air tawar tersebut diperlukan upaya-upaya yang baru selain dengan penyediaan
benih-benih lobster air tawar yang berkualitas juga dengan mencari perlakuan-perlakuan
yang dapat memacu pertumbuhannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan memberikan perlakuan pemberian kejutan suhu panas.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai Agustus 2007, betrtempat di
Laboratorium Biologi Reproduksi, Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan
Universitas Brawijaya Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 macam perlakuan lama
pemberian kejutan suhu panas yaitu A (1 menit), B (1,5 menit), C (2 menit), D (2,5
menit), dan E sebagai kontrol tanpa diberikan perlakuan lama pemberian kejutan suhu
panas dengan ulangan sebanyak 3 kali untuk masing-masing perlakuan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa diketahui bahwa perlakuan lama pemberian
kejutan suhu panas yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata
terhadap laju pertumbuhan sesaat lobster air tawar. Perlakuan A mengalami kenaikan
rata-rata laju pertumbuhan sesaat sebesar 0.45978%/BW/hari, perlakuan B sebesar
0.52178%/BW/hari, perlakuan C sebesar 0.66002%/BW/hari, dan perlakuan D sebesar
0.86241%/BW/hari. Untuk perlakuan kontrol mempunyai nilai rata-rata laju
pertumbuhan sesaat adalah 0.41043%/BW/hari. Dari semua perlakuan yang diberikan,
perlakuan D (lama pemberian kejutan suhu panas 2,5 menit) memberikan hasil yang
terbaik yaitu sebesar 0.86241%/BW/hari dari pertumbuhan normal yang hanya sebesar
0.41043%. Lama pemberian kejutan suhu panas yang berbeda ini tidak memberikan
pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah kelulushidupan (SR) lobster air tawar
yang mencapai 100%.
Pengaruh perlakuan lama pemberian kejutan suhu panas yang berbeda terhadap
laju pertumbuhan sesaat lobster air tawar diperoleh hubungan linier dengan persamaan Y
= 0,15486 + 0,26922 dengan korelasi r sebesar 0,70280. Dalam penelitian ini kualitas
air tidak berpengaruh terhadap perlakuan dikarenakan masih dalam batas toleransi yang
masih diterima oleh lobster air tawar. Kisaran rata-rata suhu 23 – 28,60C, oksigen
terlarut (DO) rata-rata 4 – 5,15 mg/l, dan pH rata-rata 7 – 7,40.
Disarankan bagi para petani lobster air tawar agar mendapatkan laju pertumbuhan
sesaat yang lebih cepat, sebaiknya menggunakan perlakuan lama pemberian kejutan
suhu panas (heat shock) selama 2,5 menit dengan suhu 360C terhadap lobster air tawar
yang dibudidayakan
sumber : http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:YIgxPwBe-woJ:elib.ub.ac.id/bitstream/123456789/24633/3/Pengaruh-Lama-Pemberian-Kejutan-Suhu-Panas-%28heat-shock%29-Yang-Bebeda-Terhadap-Laju-Pertumbuhan-Benih-Lobster-Air-Tawar-%28Cherax%2520quadricarinatus%29-%28Abstrak%29.ps+suhu+lobster&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id
Lobster Air Tawar Goreng Tepung
![]() |
| Lobster Air Tawar Goreng Tepung |
Bahan-bahan
1 Kg Lobster Air Tawar, kupas, buang semua kulitnya
1 sdm air jeruk nipis
minyak goreng secukupnya
Bahan untuk Adonan Tepung, aduk rata
100 g tepung terigu
50 g tepung beras
1/2 sdt soda kue
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 putih telur ayam
100 ml air dingin
Cara membuat
Lumuri daging lobster air tawar dengan air jeruk nipis. Diamkan selama 30 menit. Tiriskan.
Celupkan tiap daging lobster air tawar dalam Adonan Tepung hingga rata.
Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning keemasan.
Angkat dan tiriskan.
Sajikan segera dengan mayones atau saus cabai botolan.
dan kentang goreng untuk tambahan
Porsi penyajian Untuk 4 orang

























