Lobster Air tawar

Seafood yang berasal dari olahan lobster menjadi begitu populer di kota-kota besar dan di daerah-daerah wisata sebagai salah satu sajian kuliner mewah yang bercita rasa tinggi.

Lobster Air tawar 2 title

Lobster merupakan hewan air yang termasuk ke dalam keluarga Nephropidae atau udang dengan ciri tubuh beruas-ruas dan adanya capit besar yang bergerigi tajam

Lobster Air tawart 3 title

Untuk memulai usaha pembudidayaan udang lobster, media berupa kolam sangat diperlukan. Dalam skala rumahan, luas kolam lobster dapat dibuat berukuran 2mx3m dengan ketinggian/kedalaman 1,5-2 meter.

Lobster Air tawar 4

Beternak lobster sebenarnya tidak memerlukan perawatan yang rumit. Bahkan jumlah pakannya pun tidak terlalu menguras kantong. Anda bisa memberinya cacahan ubi, aneka sayuran, dan lainnya setiap pagi dan sore hari.

Lobster Air tawar 5

Panen lobster air tawar dapat dilakukan setelah berumur 7 bulanan. Untuk mengambil lobster yang telah siap panen (dikonsumsi) biasanya dilakukan pada sore hari..

Waktu yang Tepat untuk Memberikan Lobster / Pakan Red Claw

Penelitian telah menunjukkan bahwa waktu Red Claw yang paling aktif di malam hari antara jam 6 sore dan tengah malam. Pada saat ini lah waktu terbaik untuk member makan. Makanan untuk Indukan sangat lah
penting. Induk harus diberi pakan yang lengkap (dengan suplemen vitamin dan mineral). Pelet Tenggelam atau pakan udang yg di berikan setidaknya pelet yang mengandung 28 persen protein, dengan takaran 3 persen dari berat badan per hari. Beberapa hatchery/farm pembenihan meramu sendiri pakan dengan makanan segar. Pakan buatan termasuk sayuran dicampur beku, benih burung, dan hati sapi cincang atau hati. Pakan yg di berikan harus sesuai dengan takaran, jangan sampai berlebihan, terutama dengan pakan segar, karena dapat mengurangi kualitas air.

Cara Makan dan Kebiasaan Makan Lobster Air Tawar ( Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal )




Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal
Dilihat dari kebiasaan makanan (food habit), hewan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora). Ikan mas termasuk herbivora atau ikan yang sepanjang hidupnya pemakan tumbuhan.

Menurut Rita Suryani (2005) lobster air tawar tergolong karnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Lobster air tawar dapat memakan bahan hewani, seperti cacing sutera, cacing air, cacing tanah dan zooplankton. Sementara bahan nabati yang sangat disukai adalah tanaman air, seperti lumut, akar
salada air dan tanaman air lainnya. Menurut Wiyanto dan Hartono (2003) selain pakan alami segar, lobster juga menyukai pakan buatan, terutama pelet. Sedangkan menurut Iskandar (2003), selain lumut dan cacing, lobster juga suka dengan biji-bijian, ubi-ubian dan bangkai binatang.

Sebelum memangsa makanan, lobster mendeteksi makanan itu dengan antena pada kepala, kemudian jika makanan itu sudah sesuai dengan keinginan, mangsa akan ditangkap dengan capitnya yang kuat dan kokoh. Setelah itu, mangsa diserahkan pada kaki jalan pertama, yang berfungsi sebagai tangan, dan siap dikonsumsi. Karena pelet khusus lobster jarang, maka pelet lain juga bisa diberikan, tapi kandungan protein pakan tersebut harus berkisar antara 30 – 40 persen. Menurut Iskandar (2003), jenis pelet komersil untuk lobster air tawar adalah pelet untuk windu dan udang galah. Dosis pakan yang diberikan sebanyak 3 persen/hari dari bobot tubuh.

Dilihat dari kebiasaan makan, ikan dibagi menjadi tiga golongan, yaitu floating feeder, midle feeder dan bottom feeder. Ikan nila termasuk floating feeder, karena terbiasa makan di permukaan. Tambakan termasuk midle feeder, karena terbiasa makan di tengah perairan. Sedangkan lobster air tawar termasuk bottom feeder, yaitu pemakan dasar.

Selain bottom feeder, lobster juga fasif dalam mencari makan, dan lebih banyak dilakukan pada malam hari, atau dikenal dengan sebutan nocturnal animal. Karena sifat itu, maka pemberian pakan untuk lobster harus lebih banyak untuk malam hari.

satu lagi, lobster air tawar juga termasuk hewan yg mau memangsa sesamanya, alias Kanibal :-)

Sumber : http://usniarie.blogspot.com/2008/04/klasifikasi-dan-morfologi_26.html

Hati-hati WSSV Dapat Menyerang Lobster Air Tawar





Clarkii yg terkena WSSV (terdapat lapisan putih/
white spot pada  sekujur tubuhnya)
Setelah Sukses menyerang Udang Vanamei dan jenis-jenis udang lainnya, WSSV (White Spot Syndrome Virus) juga dapat mengancam Lobster Air Tawar


Di Indonesia, penyakit WSSV mewabah sejak tahun 1995.  WSSV menyerang udang  pada semua stadia baik benur maupun udang dewasa. WSSV  dapat menyebabkan kematian  pada udang hingga 100% selama 3- 10 hari sejak gejala klinis muncul.  Namun, di Indonesia  penelitian mengenai penyakit WSSV belum banyak dilakukan baik dalam aspek penularan maupun pencegahannya (Alifuddin et al., 2003).  




Apalagi setelah di temukannya WSSV pada Lobster Air Tawar di negara bagian Louisiana di Amerika pada tahun 2007,  WSSV sangat mematikan,  hal ini diketahui dari beberapa penelitian yang menggunakan lobster ait tawar jenis  Cherax quadricarinatus / Red Claw (Djauhari, 2005), jenis Procambarus Clarkii (Jha 2006; Wang et al.; 1998) dan jenis Pacifastus  leniusculus (Jiravanichpaisal et al., 2001) dapat terinfeksi WSSV melalui oral, perendaman  maupun injeksi.  Diketahui pada penelitian dengan virus WSSV terhadap lobster ait tawar jenis  Pacifastus leniusculus menghasilkan kematian total pada hari ke-10 pasca infeksi  (Jiravanichpaisal et al., 2001) sedang lobster jenis Procambarus clarkii mencapai 81 %  dalam  18 hari setelah mengkonsumsi pakan udang windu (Penaeus monodon) yang positif  WSSV  (Wang  et al., 1998).  Virus WSSV ini mampu menyebar melalui kanibalisme antar udang  maupun melalui air yang terkontaminasi (Chang et al., 1996)

Himbauan kepada para peternak, berhati-hati jika menggunakan pakan berbasis udang segar pada Lobster Air Tawar Anda, rebus terlebih dahulu pakan berbasis udang yg akan di berikan, lebih baik repot daripada rugi :D

Buku Budidaya Lobster Air Tawar

Berikut salah satu buku yg dapat dijadikan acuan bagi para peternak

dari Perum Perhutani Jember

http://kphjember.com/files/CARA%20BUDIDAYA%20LOBSTER.pdf

Semoga Membantu

Perbandingan Kandungan Kolesterol Lobster Air Tawar,Lobster Laut dengan Makanan Lainnya

 

Perbandingannya adalah sebagai berikut :

Kandungan Kolesterol Lobster Air Tawar adalah 96 mg
Kandungan Kolesterol Lobster Laut  adalah 125 mg

Sementara perbandingan dengan makanan lainnya adalah sebagai berikut :


Daging asap
98
Sekali-sekali
Iga sapi
100
Sekali-sekali
Iga babi
105
Haram
Daging sapi
105
Sekali-sekali
Burung dara
110
Sekali-sekali
Ikan bawal
120
Sekali-sekali
Daging sapi berlemak
125
Sekali-sekali
Lemak sapi
130
Sekali-sekali
Lemak kambing
130
Sekali-sekali
Daging babi berlemak
130
Haram
Keju
140
Hati-hati
Sosis daging
150
Hati-hati
Kepiting
150
Hati-hati
Udang
160
Hati-hati
Kerang/siput
160
Hati-hati
Belut
185
Hati-hati
Santan Kelapa
185
Hati-hati
Lemak babi
200
Haram
Susu sapi
250
Berbahaya
Susu sapi krim
280
Berbahaya
Coklat (cacao)
290
Berbahaya
Mentega/margarine
300
Berbahaya
Jeroan sapi
380
Berbahaya
Jeroan babi
420
Haram
Kerang putih/remis/tiram
450
Berbahaya
Telur ayam
500
Berbahaya
Jeroan kambing
610
Berbahaya
Cumi-cumi
1.170
Dilarang
Kuning telur ayam
2.000
Dilarang
Otak sapi
2.300
Dilarang
Otak babi
3.100
Haram
Telur burung puyuh
3.640
Dilarang
Sumber: Singapore General Hospital

Seharusnya menurut tabel di Atas, Lobster Air Tawar lebih "sehat" :-)
ya setidaknya juga harus makan makanan berserat, seperti sayuran, biji-bijian dan rajin ber-olahraga :-)

Perawatan Indukan Gendong Telor pada Lobster Air Tawar

Lobster air tawar betina ( indukan ) yang sedang membawa telur biasa disebut dengan istilah induk gendong telur.

Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.

Telur ini berbentuk oval dan berdiameter 1/10 inci dan akan dierami indukan selama kurun waktu 4 – 6 minggu.


Masa ini disebut dengan masa inkubasi. Apabila suhu air dapat dipertahankan dikisaran 28 derajat Celcius, maka masa inkubasi akan berlangsung lebih cepat, yakni selama 30 – 35 hari. Selama dalam masa pengeraman, kualitas air dan oksigen terlarut harus selalu diperhatikan dan dijaga.




Red Claw Gendong Telor (Fase ke 2)
Pengecekan terhadap induk betina yang berstatus gendong telur baru aman untuk dilakukan dalam tempo 2 minggu setelah proses pemijahan terjadi. Setelah itu, induk gendong telur harus segera dipindahkan ke kolam / akuairum pengeraman.

Pemindahan induk gendong telur harus dilakukan dengan sangat hati – hati untuk menghindari rontoknya telur akibat pergerakan ( berontak ) induk. Selama dalam masa pengeraman, telur – telur lobster air tawar akan berkembang melalui 5 fase, yaitu :


Fase 1 ( hari ke 1 – 3 ), telur berwarna keabuan.
Fase 2 ( hari ke 12 – 14 ), telur berwarna kecoklatan, coklat muda.
Fase 3 ( hari ke 20 – 23 ), menginjak fase eye spot ( titik hitam pada telur ).
Fase 4 ( hari ke 28 – 35 ), telur berwarna oranye kemerahan; organ tubuh sudah terbentuk lengkap.
Fase 5, telur telah berubah menjadi burayak yang sudah siap turun gendong ( lepas dari induknya ).

 
Menempatkan induk betina yang sedang gendong telur dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :





Fase ke 4
Pengeraman tunggal, yaitu dengan cara menempatkan 1 ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium.

Pengeraman massal, yaitu dengan cara menempatkan beberapa ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium. Beberapa induk gendong telur yang ditempatkan secara bersama – sam ke dalam kolam / akuarium harus mempunyai umur telur yang sama ( minimal berselisih 10 hari )

Agar lebih terjamin penetasan telor dan memudahkan perawatan, sebaiknya indukan gendong telor di pisahkan dari kawanannya (di karantina)

Sebelum di karantina pastikan lama pengeraman induk sudah memasuki Fase ke 2, cirinya telor berwarna kecoklatan induk betina sudah tidak ditunggui/dijaga oleh si induk jantannya.




Gendong Telor Fase ke 5


Cara memindahkan yg aman bisa sekalian diangkat dengan pipa sembunyiannya atau menggunakan alat serokan, lakukan dengan hati2 jangan sampai indukan betina terkejut sehingga mengibaskan ekornya, akibat dari pengibasan ekor tersebut telor yg di gendong akan rontok. Lokasi pemindahan juga jangan terlalu jauh.

Jaga kepadatan media karantina, misal satu wadah cuma diisi satu atau beberapa induk betina (tergantung luas media), resiko jika terlalu padat adalah antar indukan sering berganti atau rebutan utk masuk ke lubang sembunyian yg sama sehingga telur dapat rontok karena tercapit oleh indukan yg lain. Sebagai perbandingan, aquarium ukuran 50 x 50 maximum di isi oleh 2 ekor indukan yg sedang gendong telor.

Jumlah paralon, tempat sembunyian, di bisakan lebih banyak daripada jumlah indukan gendong telor pada media tersebut
Ketinggian air pada media karantina cukup  antara 5-10 centimeter, yg terpenting induk terendam & gunakan aerator/pump udara secukupnya. fungsi dari penggunaan air yg dangkal utk mengurangi keaktifan gerak LATnya saat dipindahkan sehingga LAT lebih banyak diam di lubang sembunyian & jika LATnya kekurangan oksigen dia dapat berdiri di pinggir media utk menyembulkan kepalanya.

Jaga kebersihan media terutama dibagian dasar media. resiko dari kotoran2 & sisa pakan yg mengendap di dasar media adalah tumbuhnya parasit & jamur yg dpt menjalar ke LAT dan telur yg digendongnya yg berimbas pada pembusukan telur.

Indukan di pisah dari burayak (anaknya) setelah melewati Fase ke 5, biarkan seluruh burayak turun dengan sendirinya dari tubuh induknya. Indukan betina tidak akan memakan anaknya selama makanan di tempat pemeliharaan cukup.

Dari berbagai sumber, antara lain :   
http://www.infoagrobisnis.com/2009/05/proses-pengeraman-pada-lobster-air.html
http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150136172222518

Kalium Permanganat (PK) sebagai Pengobatan pada Ikan dan Lobster Air Tawar


Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, Tricodina, ulcer  dan infeksi jamur. Meskipun demikian penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu harus dilakukan dengan dosis yang tepat.


Tingkat keracunan PK secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin. Potasium permanganat tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet. Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan tersdisosiasi dalam air membentuk ion permanganat (MnO4) dan juga mangan oksida (MnO2) bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh karena itu efek utama bahan ini adalah sebagai oksidator. Dilaporkan bahwa permanganat merupakan bahan aktif beracun yang mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka melalui prosesoksidasi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa mangan oksida membentuk kompleks protein pada permukaan epithelium sehingga menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya menyebabkan mereka mati. Berbagai review dalam berbagai literatur menunjukkan bahwa kalium permangat dapat membunuh Saprolegnia, Costia, Chilodinella, Ich, Trichodina, Gyrodactylus dan Dactylogyrus, Argulus, Piscicola, Lernea, Columnaris dan bakteri lainnya seperti Edwardsiella, Aeromonas, Pseudomonas, plus Algae dan Ambiphrya.

Mekipun demikian Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon apabila PK digunakan dalam perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90 menit). Begitu pula dengan Costia dan Chilodinella, dilaporkan resiten terhadap PK, kecuali apabila PK digunakan sebagai terapi perendaman.Kalium permangat sebagai terapi perendaman bersifat sangat kaustik, hal ini dapat menyebabkan penggumpalan nekrosis (ditandai dengan memutihnya jaringan yang mati) pada sirip. Kerusakan insang juga dapat terjadi, sehingga dapat menyebabkan kematian pada ikan beberapa minggu kemudian setelah dilakukan terapi perendaman. Ikan mas koki, diketahui lebih sensitif terhadap PK sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan spesies lainnya. Dengan alasan-alasan seperti itu, maka sering tidak direkomendasikan untuk menggunakan PK sebagai terapi perendaman, dan juga karena efek terapeutiknya tidak lebih baik dibandingakan dengan terapi terus-menerus dengan dosis 2 - 4 ppm. Kalium permanganat sangat efektif dalam menghilangkan Flukes Gyrodactylus dan Dactylus dapat hilang setelah 8 jam perlakuan dengan dosis 3 ppm pada suatu sistem tertutup. Penularan kembali masih dapat terjadi, oleh karena itu, direkomendasikan untuk mengulang kembali perlakuan 2-3 hari kemudian dengan dosis 2 ppm. Beberapa khasiat lain dari Kalium permangat yang dilaporkan diantaranya adalah:sebagai disinfektan luka, dapat mengurangi aeromanoas (hingga 99%) dan bakteri gram negatif lainnya, dapat membunuh Saprolegnia yang umum dijumpai sebagai infeksi sekunder pada Ulcer , dan tentu saja sebagai oksidator yang akan mengkosidasi bahan organik.Beberapa aplikasi lain yang biasa dilakukan oleh para hobiis dan akuakulturis adalah menggunakannya dalam proses transportasi ikan. Konsentrasi kurang dari 2 ppm diketahui dapat mengurangi resiko infeksi Columnaris dan infeksi bakteri lainnya, serta membatasi dan menghentikan parasit yang sering menyertai ikan dalam proses transportasi. Begitu juga transportasi burayak dilaporkan aman dengan perlakuan kalium permanganat dibawah 2 ppm.Meskipun demikian untuk burayak dalam kolam tidak dianjurkan untuk menggunakan perlakuan kalium permanganat. Hal ini tidak ada hubungannya dengan keracunan yang mungkin terjadi pada burayak , tetapi efeknya justru terhadap kemungkinan berkurangnya fitoplankton dan makrofit yang dapat menyebabkan burayak menderita kelaparan.

Untuk pengobatan pada Lobster Air Tawar, tidak di sarankan penggunaan pada Burayak dan bibit Lobster Air Tawar kurang dari 2 Inchi, penggunaan pada Bibit Lobster Air Tawar dan Lobster Air Tawar Dewasa hanya boleh dengan dosis kurang dari 2ppm.

Ekstrak Wortel untuk Meningkatkan Pertumbuhan Lobster Air Tawar

Wortel / Daucus Carota
Lobster air tawar merupakan udang konsumsi dan menjadi salah satu komoditas perikanan yang mulai dikembangkan untuk budidaya di Indonesia sejak tahun 2000, tetapi jumlahnya masih belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Peluang pasar inilah yang mendorong dilakukannya peningkatan kualitas maupun jumlah produksi lobster air tawar seoptimal mungkin. Salah satu teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produksi lobster air tawar adalah melalui rekayasa pakan, diantaranya dengan penambahan ekstrak Wortel ke dalam pakan.


Pemilihan wortel sebagai bahan ekstrak yang dicampur ke dalam pakan karena wortel mempunyai kelebihan yaitu mengandung beta karoten, harga murah dan mudah mendapatkannya. Beta karoten merupakan provitamin A yang berperan dalam proses pertumbuhan. beta karoten di dalam tubuh akan dirubah menjadi asam retinoat yang berperan untuk meningkatkan sistem immun, reproduksi dan menjaga pertumbuhan sel.

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar.

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Perikanan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga yang dilaksanakan pada 6 April sampai dengan 6 Jum 2006. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan rancangan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan A (kontrol), B (25 ppm), C (30 ppm), D (35 ppm), E (40 ppm) dan F (45 ppm) dengan masing-masing perlakuan mendapat tiga kali ulangan. Data yang didapat diolah dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA), apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) antara A (kontrol) dan perlakuan {B (25 ppm), C (30 ppm), D (35 ppm), E (35 ppm) dan F (45 ppm)) terhadap pertambahan berat dan pertambahan panjang mutlak lobster air tawar, sedangkan antar perlakuan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (p> 0,05).

Hasil penelitian penambahan ekstrak wortel dalam pakan antara kontrol dengan perlakuan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap laju pertumbuhan harian dan tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan ekstrak wortel dalam pakan buatan dengan dosis minimal 25 ppm dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan benih lobster air tawar dan aman digunakan karena tidak mengakibatkan kematian benih lobster air tawar.

Sumber : http://jurnal.dikti.go.id/jurnal/detil/id/2:5399/q/pengarang:Irawati%20/offset/135/limit/15

Proses Moulting pada Lobster Air Tawar

Lobster Moulting (Clarkii Blue)
Proses Moulting pada Lobster Air Tawar atau dengan kata lain proses ganti kulit merupakan proses alamiah yang terjadi pada lobster. Lobster adalah adalah hewan dengan eksoskeleton (kerangka luar). Kerangka pada lobster tidak ikut tumbuh seiring pertumbuhan lobster. Apabila badan lobster membesar, lobster akan keluar dari kerangka lamanya dan membentuk kerangka baru. Dalam kondisi lingkungan yang baik, lobster akan terpacu untuk moulting, sehingga pertumbuhannya menjadi lebih cepat.


Moulting melalui proses yang bersifar hormonal. Setidaknya ada dua jenis hormon yang diketahui bertanggung jawab terhadap proses moulting, yaitu ecdysis dan MIH (Moult Inhibiting Hormon). Ecdysis berperan dalam proses moulting, sedangkan MIH berfungsi sebagai penghambat proses moulting.

Salah satu cara mengurangi MIH adalah dengan teknik ablasi atau teknik pemotongan salah satu mata lobster. MIH terletak pada batang mata lobster, dengan membuang mata tersebut, diharapkan kehadiran MIH bisa dihilangkan agar tidak ada yang menghambat proses moulting.

Moulting merupakan tahap kritikal dalam kehidupan lobster. Hampir 30% kematian terjadi pada saat moulting. Kematian terjadi dari akibat gagal moulting, infeksi patogen, dan akibat kanibalisme. Dalam proses moulting ditemui fenomena penyerapan kalsium dari kerangka lama yang disimpan dalam organ khusus dalam perut lobster (gastrolith).

Selama proses moulting, lobster cenderung tidak aktif dan berdiam diri dalam lubang persembunyiannya. Kalaupun bergerak akan lamban. Kulit lobster akan tampak keruh dimana hal ini adalah hal yang wajar.
Setelah proses moulting selesai, kulit lobster akan lunak dan perlu beberapa lama untuk menjadi keras kembali sehingga lobster nyaris tidak mempunyai perlindungan apapun terhadap musuh ataupun dari serangan lobster lainnya. Lobster memerlukan tempat persembunyian yang aman agar bisa terlindung dari serangan lobster atau hewan lain. Setelah itu mereka akan aktif dan makan lebih banyak. Selama masa pertumbuhan kulitnya lobster memerlukan kalsium yang cukup.

Secara ringkas, proses moulting melalui empat tahap yaitu: proecdysis, ecdysis, metcdysis dan intramoulting.

1. Proecdysis
Proecdysis merupakan tahap persiapan moulting. Pada tahap ini sel-sel epidermis lobster memisahkan diri dari kutikel tua, dan mulai menyiapkan diri membentuk kerangka luar baru. Kalsium diserap dari kerangka lama dan disimpan dalam gastrolith. Lobster akan berhenti makan pada tahap ini. Kebutuhan energi selanjutnya selanjutnya diambil alih oleh hepatopancreas yang akan menyuplai energi selama moulting berlangsung.

2. Ecdysis
Tahap ini merupakan tahap pelepasan diri dari kerangka lama. Pada saat baru keluar, kutikel lobster dalam keadaan masih lunak. Pada fase ini terjadi penyerapan air secara cepat oleh tubuh lobster.

3. Metecdysis
Dalam tahap ini terjadi pemindahan mineral kalsium dari kalsium ke kutikel barunya sebagai bahan kerangka luar. Endokutikel juga terbentuk dan pada fase ini lobster sudah mulai makan. Pembentukan jaringan terjadi disertai dengan peningkatan sintesis protein dari DNA. Jaringan mulai menggantikan air yang diserap pada fase sebelumnya.

4. Intermoulting
Merupakan fase antar moulting. Pada saat kerangka luar dan pertumbuhan jaringan nyaris selesai, lobster mulai mengubah metabolismenya dari untuk keperluan pertumbuhan ke pemenuhan cadangan energi untuk disimpan dalam hepatopankreas. Cadangan ini diperlukan lobster untuk moulting berikutnya.

Pengaruh Penambahan Kalsium pada Pakan terhadap Frekuensi Moulting Lobster Air Tawar


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan  kalsium pada pakan terhadap frekuensi molting lobster air tawar  (Cherax Quadricarinatus). Dari penelitian ini diharapkan  dapat diperoleh informasi dasar  tentang penambahan kalsium yang tepat pada pakan lobster air tawar, sehingga  bisa digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan frekuensi molting dan mampu   mempercepat pertumbuhan lobster air tawar. 


Penelitian ini dilaksanakan selama  30 hari di Laboratorium Indoor  Perikanan, Fakultas Peternakan-Perikanan Universitas Muhammadiyah  Malang. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL). Adapun perlakuan yang digunakan  adalah penambahan kalsium pada pakan dengan konsentrasi yang berbeda,  yaitu perlakuan A = 0 % (tanpa penambahan kalsium), B = 2 %, C = 4 %,  dan D = 6 %.

Cherax Quadricarinatus / Red Claw
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kalsium pada  pakan dapat meningkatkan frekuensi  molting lobster air tawar. Hal ini  ditunjukkan dengan perlakuan B (2%) yang memiliki frekuensi molting  tertinggi, yaitu 7,33. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan D (6%) = 7,00,  perlakuan A (0%) = 6,33, dan perlakuan C (4%) = 5,67. Penambahan  kalsium pada pakan juga memberikan pengaruh yang positif pada sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar. Pada semua perlakuan pakan yang  ditambahkan kalsium menunjukkan nilai sintasan yang lebih tinggi  dibandingkan perlakuan pakan yang tidak ditambahkan kalsium.

Data rata- rata sintasan lobster air tawar secara berurutan adalah sebagai berikut;  perlakuan B (2%) = 93,33%, D (6%) = 93,33%, C (4%) = 86,67%, dan A  (0%) = 80 %. Sedangkan data rata-rata pertumbuhan lobster air tawar  secara berurutan adalah sebagai berikut; perlakuan B (2%) = 0,85 g, D
(6%) = 0,79 g, C (4%) = 0,78 g, dan A (0%) = 0,73 g.

Disarankan agar dalam budidaya lobster air tawar khususnya pada  stadia benih, dapat menggunakan pakan yang ditambahkan kalsium 2%,  sehingga dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar  tersebut.

Sumber : http://research-report.umm.ac.id/index.php/research-report/article/viewFile/214/301

Kejutan Suhu Panas terhadap Laju Pertumbuhan Benih Lobster Air Tawar

Heater
HARUMI RAHMI WIDIATI  Skripsi tentang Lama Pemberian Kejutan Suhu Panas
(heat shock) Yang Bebeda Terhadap Laju Pertumbuhan Benih Lobster air Tawar
(Cherax quadricarinatus) dibawah bimbingan Ir. AGOES SOEPRIJANTO, MS dan
Ir. ABDUL RAHEM FAQIH, MSi.

Permintaan pasar akan lobster air tawar di dalam negeri bisa dikatakan cukup
tinggi dan prospek pasar luar negeri masih terbuka lebar, tetapi produksi domestik belum
dapat memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Hal ini terkait dengan masih kecilnya hasil
produksi lobster air tawar oleh petani dalam negeri. Untuk
mempertinggi hasil produksi
lobster air tawar tersebut diperlukan upaya-upaya yang baru selain dengan penyediaan
benih-benih lobster air tawar yang berkualitas juga dengan mencari perlakuan-perlakuan
yang dapat memacu pertumbuhannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan memberikan perlakuan pemberian kejutan suhu panas.

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai Agustus 2007, betrtempat di
Laboratorium Biologi Reproduksi, Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan
Universitas Brawijaya Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 macam perlakuan lama
pemberian kejutan suhu panas yaitu A (1 menit), B (1,5 menit), C (2 menit), D (2,5
menit), dan E sebagai kontrol tanpa diberikan perlakuan lama pemberian kejutan suhu
panas dengan ulangan sebanyak 3 kali untuk masing-masing perlakuan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa diketahui bahwa perlakuan lama pemberian
kejutan suhu panas yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata
terhadap laju pertumbuhan sesaat lobster air tawar. Perlakuan A mengalami kenaikan
rata-rata laju pertumbuhan sesaat sebesar 0.45978%/BW/hari, perlakuan B sebesar
0.52178%/BW/hari, perlakuan C sebesar 0.66002%/BW/hari, dan perlakuan D sebesar
0.86241%/BW/hari. Untuk perlakuan kontrol mempunyai nilai rata-rata laju
pertumbuhan sesaat adalah 0.41043%/BW/hari. Dari semua perlakuan yang diberikan,
perlakuan D (lama pemberian kejutan suhu panas 2,5 menit) memberikan hasil yang
terbaik yaitu sebesar 0.86241%/BW/hari dari pertumbuhan normal yang hanya sebesar
0.41043%. Lama pemberian kejutan suhu panas yang berbeda ini tidak memberikan
pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah kelulushidupan (SR) lobster air tawar
yang mencapai 100%.

Pengaruh perlakuan lama pemberian kejutan suhu panas yang berbeda terhadap
laju pertumbuhan sesaat lobster air tawar diperoleh hubungan linier dengan persamaan Y
= 0,15486 + 0,26922 dengan korelasi r sebesar 0,70280. Dalam penelitian ini kualitas
air tidak berpengaruh terhadap perlakuan dikarenakan masih dalam batas toleransi yang
masih diterima oleh lobster air tawar. Kisaran rata-rata suhu 23 – 28,60C, oksigen
terlarut (DO) rata-rata 4 – 5,15 mg/l, dan pH rata-rata 7 – 7,40.
Disarankan bagi para petani lobster air tawar agar mendapatkan laju pertumbuhan
sesaat yang lebih cepat, sebaiknya menggunakan perlakuan lama pemberian kejutan
suhu panas (heat shock) selama 2,5 menit dengan suhu 360C terhadap lobster air tawar
yang dibudidayakan

sumber : http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:YIgxPwBe-woJ:elib.ub.ac.id/bitstream/123456789/24633/3/Pengaruh-Lama-Pemberian-Kejutan-Suhu-Panas-%28heat-shock%29-Yang-Bebeda-Terhadap-Laju-Pertumbuhan-Benih-Lobster-Air-Tawar-%28Cherax%2520quadricarinatus%29-%28Abstrak%29.ps+suhu+lobster&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id

Lobster Air Tawar Goreng Tepung

Lobster Air Tawar Goreng Tepung


Bahan-bahan

1 Kg Lobster Air Tawar, kupas, buang semua kulitnya
1 sdm air jeruk nipis
minyak goreng secukupnya

Bahan untuk Adonan Tepung, aduk rata
100 g tepung terigu
50 g tepung beras
1/2 sdt soda kue
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 putih telur ayam
100 ml air dingin

Cara membuat
Lumuri daging lobster air tawar dengan air jeruk nipis. Diamkan selama 30 menit. Tiriskan.
Celupkan tiap daging lobster air tawar dalam Adonan Tepung hingga rata.
Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning keemasan.
Angkat dan tiriskan.
Sajikan segera dengan mayones atau saus cabai botolan.
dan kentang goreng untuk tambahan

Porsi penyajian Untuk 4 orang

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites